Misi Ratu Bagus Dalam Menghadapi Krisis Pangan

Beberapa bulan belakangan ini Jero Lanang sangat intens mendorong para sisya dalam kegiatan pelatihan dan usaha pertanian, peternakan, dan perikanan. Sekitar 3 tahun yang lalu, ide ini sudah disampaikan oleh Jero Lanang, tapi masih belum mendapatkan respon dari sisya. Seiring waktu berjalan, melalui shaking dan sharing yang dilakukan tanpa mengenal waktu, para sisya mulai paham apa maksud dan tujuannya. Oleh sebab itu, Jero Lanang dan para murid sepakat dalam kegiatan tersebut.

Tatanan dunia akan berubah dan kita yang menjadi bagian juga harus berubah. “Mereka yang tidak siap terhadap perubahan akan tergilas dan tertinggal.” begitu pesan penting dari Jero Lanang. Berlandaskan dari niat bersama itu, kemudian terbentuklah paguyuban Sidha Ayu. Tujuan adanya paguyuban ini adalah sebagai wadah bersama dalam mengembangkan potensi dan kemampuan masing-masing, yang disesuaikan dengan kondisi lokal tentang hal apa yang bisa dilakukan dalam mengantisipasi krisis yang akan datang.

Paguyuban bukan kelompok baru untuk lepas dari Yayasan dan Ashram di Muncan seperti pemikiran beberapa orang, tetapi lebih secara spesifik untuk mewadahi sisya yang memiliki latar belakang pekerjaan dan kemampuan yang berbeda apalagi yang masih serba kekurangan secara ekonomi. Ratu Bagus melalui Jero Lanang ingin melihat anak-anaknya sehat secara jasmani rohani dan juga sejahtera. Itu cita-cita Ratu Bagus sejak dulu sehingga berbagai upaya dilalui dan diusahakan agar para sisya berhasil.

Sekarang ini, ada beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan di Ashram Buruan seperti, budidaya lobster, perikanan, dan tanaman sayur hidroponik. Pertanyaan yang sering disampaikan, mengapa harus di Ashram Buruan dan kenapa tidak di Ashram Muncan?

Ashram Buruan tempatnya cukup strategis karena lokasinya cukup dekat dengan kebanyakan sisya di sekitarnya. Kegiatan yang dilakukan di Ashram Buruan memerlukan perhatian yang intens dan setiap waktu harus ada yang mengontrol, sehingga kami para sisya dapat mengatur diri dari jadwal pekerjaan, disamping itu karena lokasinya yang cukup dekat, kami para sisya bisa langsung hadir di Ashram Buruan sepulang dari bekerja. Jadi, mengapa sisya-sisya di luar jarang bisa datang di Ashram Muncan dan kemudian lebih banyak fokus melakukan pengembangan di Ashram Buruan? Hal ini cukup bisa menjawab pertanyaan tersebut, agar kedepannya tidak ada rasa saling curiga dan sentimentil. Spiritual itu harus kaya secara rohani dan kaya secara jasmani terutama menyangkut ekonomi. Keduanya harus seimbang.

Dengan modal urunan yang minim dari masing-masing anggota, tapi dengan semangat kebersamaan dan kekeluargaan akhirnya kegiatan sudah bisa mulai dilaksanakan. Ini tidak lepas dari perhatian besar Jero Lanang yang mengawali memprakarsai dan memberikan donasi. Kemudian setiap bulan para sisya sepakat berkontribusi berupa uang semampunya untuk keberlangsungan kegiatan di Ashram Buruan tanpa keharusan, tapi atas dasar kesadaran dan ketulusan. Jumlah bukan menjadi ukuran, tetapi niat yang tulus dan ikhlas adalah pondasi dalam menjalani kehidupan spiritual.

Selanjutnya, dalam menghandel kegiatan ini, para sisya mengatur penjadwalan yang sudah disesuaikan agar setiap hari ada yang mengurus proyek ini. Ini bukan hanya sekedar fokus ke proyek saja, tetapi yang terpenting adalah para sisya bisa melaksanakan shaking bersama dengan sisya yang piket hari itu. “Shaking adalah yang paling utama. Jangan sampai karena adanya proyek ini, kalian melupakan shaking.” Itu pesan Jero Lanang saat memberikan motivasi setelah kegiatan shaking.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *