Hari Kelahiran (Paweton) Ida Ratu Bagus

Upacara Paweton Ida Ratu Bagus dengan melaksanakan Homa Yajnya di Ashram Muncan.

Pada Sabtu sore 18 Oktober 2025, udara terasa sejuk. Hari itu adalah hari kelahiran Maha Sad Guru Ratu Bagus menurut kalender Bali. Satu per satu anak-anak Ashram mulai berdatangan untuk ikut serta dalam upacara Homa untuk mengenang kelahiran beliau. Beberapa murid mulai mempersiapkan perlengkapan upacara dan menghias kunda tempat untuk melakukan Homa Yajna.

Jero Lanang kemudian datang di tempat kegiatan dan persis setiap beliau hadir selalu diikuti oleh rintik hujan seperti fenomena mistis. Jero Lanang duduk dekat kunda sambil menunggu murid yang lain datang menikmati lantunan kidung suci. Begitu akan dimulainya upacara, hujan turun dengan derasnya. Namun Jero Lanang tidak bergeming, tetap duduk bersama murid-murid yang lain. Semua basah kuyup dan menikmati guyuran hujan hingga selesai upacara. Ini adalah anugerah dan beliau mengisyaratkan bahwa ke depan murid-murid beliau harus tahan banting, kuat dan menjadi pioner bagi umat. Tantangan di depan mata sangat jelas dan kita akan persiapkan diri kita untuk menghadapinya.

Kemudian setelah Homa dilanjutkan dengan shaking bersama. Semua murid di Bali dan beberapa murid barat sangat antusias dan merasakan energi yang luar biasa di tengah guyuran hujan. Mereka tertawa bahagia berpadu dengan getaran tubuh mencerminkan betapa agungnya pancaran energi yang diterima. Setelah itu dilanjutkan dengan wejangan penyemangat dari Jero Lanang dan beliau mengatakan bahwa hujan ini bukan hujan biasa dan beliau telah menantinya sejak awal tadi.

Beliau juga mengingatkan agar para murid peka dengan alam dan bangkitkan diri tentang kesadaran semesta sehingga tahu apa tugas dan tanggungjawab sebagai seorang murid untuk membantu kerja semesta sehingga melakukan sesuatu tanpa harus diperintah tetapi atas kesadaran dengan dasar ketulusan. Mestinya hari itu semua murid wajib hadir karena bukan sekedar perayaan seperti hari ulang tahun pada umumnya tetapi lebih sebagai bentuk rasa penyatuan Guru dan murid, sebagai wujud hubungan menerima dan memberi, serta kesadaran diri.

Ini adalah hari lahir kita semua bukan hari lahir Ratu Bagus semata. Ini adalah momentum agar semua mendapatkan anugerah alam semesta. Ini adalah salah satu cara memanggil murid-murid beliau agar selalu ingat diri tentang kemanunggalan. Penyatuan Guru dan murid sebagai satu rasa, satu jiwa yaitu SAYA. Begitu beberapa pesan penting yang beliau Jero Lanang sampaikan


Mengutip kidung suci yang dilantunkan ketika itu sebagai pesan kepada para murid.

Uduh nanak bagus sayang cening
Pireng ikang bawos
Tulus lan lascarya pikayune
Sampunang merasa dewek ririh
Ulengang ring hati
Sinah trepti pangguh

Artinya ;
Wahai anakku semua yang aku sayangi, kalian adalah perwujudan dari kebaikan
Dengarkanlah pesanku ini
Ketulusan dan ikhlas agar selalu ada di dirimu
Jangan merasa diri pintar dalam menapak jalan spiritual
Agar selalu fokus di hatimu
Pasti kedamaian akan kalian dapatkan

Dasar anggen nunas ne sujati
Puyung raga lakon
Guru rasa bangkit panguripe
Kukuh pageh Tri Rnam taurin
Ne dumun lan mangkin
Ne rauh katuju


Artinya :
Yang menjadi dasar untuk mencari yang sejati
Kosongkan dirimu
Rasa adalah guru di dalam dirimu dan bangkitkan itu
Tidak tergoyahkan dan kuat menjalani karmamu sebagai hutang yang harus dibayar
Karena keterkaitan kehidupan lampau dan yang sekarang
Dan yang akan datang adalah menjadi tujuan dan selalu berhubungan untuk membebaskan karmamu

Cinta dan kasih yang tak terbatas

Terimakasih Ratu Bagus, Jero Lanang

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *