Bale Kulkul

Dalam setiap ketukan kulkul, tidak hanya suara kayu yang menggema, tapi riak air ikut menyambutnya seakan alam bersahaja dalam panggilan suci ini”.

_ Riuh Hening Campuhan_

Kulkul: Suara yang Menggetarkan Dunia Niskala

Bale Kulkul di Campuhan Asram Ratu Bagus bukan hanya sekedar bangunan fisik namun ini adalah irama dari sebuah ketulusan batin mampu menghubungkan antara alam manusia dengan alam leluhur dan para dewa. Kulkul adalah kentongan dari kayu berlubang dan alat ini telah lama menjadi instrument penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Kulkul bukan hanya sebagai salah satu alat sosial, secara spirit data sebagai media yang membawa pesan ke dimensi lain yaitu penghantar resonansi antara manusia dengan leluhur dan para dewa.

Mengapa Terbuat Dari Kayu ?

Kulkul dipilih sebagai alat komunikasi spiritual, karena mampu membangkitkan pesan dengan getaran dan menyamakan frekuensi menyatu dengan alam. Kayu juga tidak memantulkan suara keras seperti logam, tetapi menghasilkan gema yang hangat dan khidmat, dalam dunia yang semakin bising dan cepat, suara kulkul mengingatkan kita untuk kembali hening, kembali ke pusat kesadaran. Ia tak bersuara keras, tetapi dalam mengheningkannya justru suara itu lebih menggema lebih dalam menyentuh sukma, membuka dialog sunyi dengan Sang Pencipta dan alam semesta.

Bale Kulkul Sebagai Pengantar Doa

Bale kulkul adalah tempat suci di mana dari sini suaranya mampu mengantarkan doa dan juga menara kecil spiritual, tempat energi suara beresonasi dan terserap dalam kehampaan ruang.

Di Campuhan Ashram Ratu Bagus, Jero Lanang membangun bale kulkul ini sebagai wujud hubungan yang harmonis antara manusia, leluhur, dan semesta. Terdapat ritus istimewa untuk tempat ini yakni sebelum dan sesudah aktivitas ngayah (pelayanan suci), kulkul akan dibunyikan yang menandakan dimulai dan berakhirnya ngayah, sekaligus sebagai bentuk komunikasi sakral.

Keistimewaan Arsitektur Bale Kulkul Campuhan

Bale kulkul di Campuhan dibangun menyesuaikan denna getaran energi di tempat tersebut.

  • Empat tiang kayu sebagai dasar, melambangkan keempat arah utama penjuru mata angin ( Utara-Selatan-Timur-Barat)
  • Atap persegi delapan (Asta Dala), simbol dari delapan penjuru mata angin yang dijaga oleh para dewa seperti Dewa Iswara, Mahadewa, Wisnu, Brahma, dan lainnya.
  • Pondasi lingkaran dari batu sungai, disimbolkan sebagai cakra kehidupan, siklus lahir hidup mati dan punarbhawa yang dihiasi ornamen swastika sana sebagai lambang siklus kehidupan.

Getaran Suci Untuk Menjaga Harmoni Semesta

Bale kulkul tidak pernah dibunyikan sembarangan. Setiap dentangnya lahir dari kesadaran bukan sekadar suara, melainkan panggilan yang mengandung makna. Di Campuhan, kulkul menjadi bagian dari ritus harian yang penuh tata dan jiwa. Ada waktu yang tepat, irama yang tertata, dan makna yang ada dalam di setiap ketukanya.

Di awal, dentangnya adalah sebuah undangan, panggilan bukan hanya kepada tubuh dan kesadaran yang mungkin masih terlelap, tetapi juga kepada para leluhur yang hadir dalam hening. Bunyi itu mengabarkan bahwa manusia telah siap membuka ruang, untuk menyambut mereka, dan menyatu sejenak dalam irama suci bersama untuk melakukan bhakti. Pada akhirnya dentang terakhir akan menggema, ini bukan penutup namun tanda bahwa benih kesadaran telah ditanam, perjumpaan telah terjadi dalam sunyi yang khusyuk dan saat itulah kita diizinkan kembali perlahan, membawa cahaya kecil dari dalam turun menapak kembali ke dunia nyata, namun dalam dimensi yang berbeda.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *