Pagi itu, Rabu 21 Januari 2026, suasana sangat cerah dan bersahaja dilihat dari wajah-wajah para sisya yang penuh keceriaan, yang akan melakukan perjalanan suci. Persiapan sudah dilakukan sedemikian rupa untuk ikut bersama-sama dalam prosesi Melasti, yaitu proses upacara penyucian pralinggam Ida Bhatara di Pura Tuluk Biyu Batur, simbol Tuhan di Pura Tirta Sah, yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan suci ke Pura Linjong di Desa Muncan.
Di dalam perjalanan, semua sangat antusias walaupun cukup lama diguyur hujan yang membuat badan basah kuyup. Semua orang yang ikut dalam perjalanan ini sangat menikmatinya. Para sisya yang sudah sangat terlatih bersama Jero Lanang tetap bertahan mengikuti seluruh prosesi acara sampai akhir tanpa menghiraukan tubuh yang basah dan cuaca yang dingin.
Para tetua adat Pura Tuluk Biyu sangat berterima kasih atas peran serta para sisya dan memberikan apresiasi kepada Jero Lanang karena telah ikut berpartisipasi dalam prosesi upacara dan perjalanan suci ini.
Setelah seluruh prosesi selesai di Pura Linjong, kita melanjutkan ke prosesi yang berikutnya. Dimana, pralinggam yang kita bawa dari Pura Linjong, kita bawa kembali ke Ashram Muncan dan dilanjutkan dengan melakukan prosesi ritual menyambangi tempat-tempat suci di Ashram. Diawali dari Hyang Begawan, Pelinggih Petirtan, Linggam Pu Daksa Yasena, Linggam Raksamukha, Tirta Sudhamala dan lanjut ke campuhan, Linggam Gajahmina.
Tidak berhenti sampai di situ, pukul 01.00 WITA Kamis dini hari, kita melanjutkan perjalanan ke Ashram Buruan dan mensthanakan Pralinggam di sana karena, di Ashram Buruan juga merupakan tempat kita melakukan latihan spiritual/shaking bersama. Seluruh prosesi berjalan lancar dan selesai pukul 03.30 WITA dini hari.
Ini merupakan perjalanan yang sangat luar biasa dimana kita tidak merasakan dingin, lelah, maupun mengantuk. Ini semua berkat energi Ratu Bagus dan motivasi dari Jero Lanang. Kita juga berterima kasih kepada beberapa sisya barat yang juga telah mengikuti acara sampai akhir.
Jika kita cermati, ini adalah bentuk dari hubungan harmonis yang harus selalu dijaga dalam kehidupan kemasyarakatan. Spiritual Ratu Bagus mengajarkan kepada kita untuk menumbuhkan kesadaran, memahami hakekat hubungan harmonis dengan Sang Pencipta, manusia, dan alam seperti konsep yang telah ditanamkan oleh para leluhur Bali tentang Tri Hita Karana.
Melalui shaking inilah, kecerdasan spiritual berupa kesadaran akan muncul, bukan hanya dari kata-kata saja, tetapi implementasi-nya secara nyata. Hal ini yang selalu ditekankan oleh Jero Lanang dalam setiap wacana Beliau kepada para sisya. Beliau lanjut mengatakan bahwa, ini adalah momen yang sangat tepat dan bagus untuk menunjukan bahwa sesungguhnya ajaran kita adalah ajaran tentang hakekat manusia, bukan untuk mem-validasi tentang apa yang kita lakukan.
Dalam kesadaran spiritual, sesungguhnya tidak lagi membutuhkan pengakuan bahwa kita telah melakukan ini dan itu, bukan sekedar sesuatu yang kita anggap baik, tetapi lebih pada kebermanfaatan. Jero Lanang menjelaskan ajaran tentang memberi dan menerima, bagaimana agar kita tidak salah memberi pun juga tidak salah menerima. Manusia sering kali lupa, memberi dan menerima adalah sesuatu yang harus disadari, seperti halnya bernafas, saat kita menghirup udara berupa oksigen yang dikeluarkan oleh tumbuhan, hal sangat kita butuhkan untuk bertahan hidup dan nafas yang kita keluarkan berupa karbon dioksida diterima dan dibutuhkan oleh tumbuhan dalam proses fotosintesis.
Beliau menambahkan, walaupun demikian adanya, tetaplah fokus untuk memberi agar hidup menjadi lebih bermakna.
Terimakasih Maha Sadh Guru Ratu Bagus, terimakasih Jero Lanang, terimakasih teman-teman atas kebersamaan ini, kita telah belajar banyak melalui momen yang sangat luar biasa.
OSRB